Berita dan Hiburan Terkini

Oktober Bulan Bahasa "Alay"!

Share on :
Tapis Berseri - OKTOBER, selalu diperingati sebagai bulan Bahasa Indonesia. Sejak masih duduk di sekolah dasar (SD), kita sudah diajarkan penggunaan bahasa yang baik dan benar menurut ejaan yang disempurnakan (EYD).

Tapi, enggak jarang kita masih menggunakan bahasa "gaul" dengan teman-teman sebaya, bahkan dengan kakak atau adik. Ini demi menghindari kesan kaku dalam bergaul dengan teman sepermainan.

Namun sayangnya, pergeseran budaya yang mengadaptasi budaya barat, sampai akibat terlalu gaul, membuat bahasa-bahasa "planet" pun mengemuka. Generasi muda, dengan bangganya, memakai kata-kata tersebut agar dibilang ngetren. Benar demikian?

Generasi 70-90-an pasti tahu dong bahasa gaul atau bahasa ABG dan kerap disebut pula bahasa Prokem. Ini merupakan ragam bahasa Indonesia nonstandar yang lazim digunakan di Jakarta kala itu.

Namun masih juga dipakai hingga saat ini, menggantikan bahasa Prokem yang lebih lazim dipakai pada tahun-tahun sebelumnya. Sintaksis dan morfologi ragam ini memanfaatkan sintaksis dan morfologi bahasa Indonesia dan dialek Betawi.

Usai berkutat dengan bahasa gaul, yang sedang happening belakangan ini adalah "fenomena alay" di kalangan masyarakat Indonesia. Alay sendiri diartikan sebagai anak lebay (berlebihan) atau anak layangan.

Alay adalah sebuah istilah yang merujuk pada sebuah fenomena perilaku remaja di Indonesia. Istilah ini merupakan stereotipe yang menggambarkan gaya hidup norak atau kampungan, tak jarang bila mereka selalu berusaha untuk menarik perhatian.

Apalagi dalam gaya bahasa, terutama bahasa tulis. Alayers (sebutan untuk para alay) ini merujuk pada kesenangan remaja menggabungkan huruf besar-huruf kecil, menggabungkan huruf dengan angka dan simbol, atau menyingkat secara berlebihan.

Sementara dalam gaya bicara, mereka berbicara dengan intonasi dan gaya yang berlebihan. Bahkan, mereka juga memiliki aturan huruf tersendiri, di mana para alayers hanya diperbolehkan memakai 13 abjad huruf saja serta sisanya angka dan simbol.

Sejatinya, kita sebagai generasi muda meneruskan penggunaan EYD dalam bertutur kata, tapi apa daya, cap nggak gaul pun kerap langsung disematkan jika kita tidak menggunakan bahasa gaul, bahasa alay, sampai bahasa prokem. Tapi kalau bukan kita yang membudidayakannya, siapa lagi?

0 komentar on Oktober Bulan Bahasa "Alay"! :

Post a Comment and Don't Spam!

 

Artikel Terbaru

Arsip Blog